Lampu Hemat Energi LED: LED PANEL LIGHT

Lampu Hemat Energi LED: LED PANEL LIGHT

LED PANEL LIGHT Lampu panel datar ini tersedia dalam dua ukuran. Sangat cocok untuk ruang kantor atau ruang meeting. Tersedia dalam besaran daya 40W yang diantaranya :

JP_FS001 : 40w, 80lm,/w, Body-al, Cover-PC1220(W) x 300(D) x 50(H)










JP_FS002 : 40w, 80lm,/w, Body-al, Cover-PC600(W) x 630(D) x 50(H)















Untuk mendapatkan produk-produk Lampu LED yang hemat energi, hubungi kami

PT. Az Global
Sentral Senayan 2, Lt16 W-37, Gelora Bung Karno, Senayan
Jakarta Pusat 10270
Tel. 021-3005 0629, Fax. 021-3005 0601
Email:az.global@yahoo.co.id

Cavistons

Cavistons

We are Ireland's premier 6 day a week source of the widest, most complete selection of fresh Organic fruit & vegetables, the freshest fish & finest delicatessen products.. Then there's our restaurant!

Visit us in Glasthule between Dun Laoghaire & Dalkey today

Shop Opening Hours
8:30AM - 6PM Thursday 30th
8:30AM - 4.30PM Friday 31st
Closed New Years Day 1st & Sunday 2nd January
Reopening Monday 3rd January 2011 8:30AM-5PM
Then normal hours..

Restaurant will reopen Thursday 29th & Friday 30th for lunch only. Evening sittings resume next weekend (8th & 9th).

Restaurant extended opening hours
Cavistons Restaurant is now open to cater for evening dining every Friday and Saturday night!
Click here for more information and booking

Suyanto

Caviston, Toko Kecil dengan Perhatian Besar

BELANJA TERASA MENYENANGKAN

Mohammad Suyanto

Abstract


Kadangkala kita menyerah sebelum bersaing. Banyak perusahaan kecil dapat memenangkan persaingan dengan perusahaan besar. Bahkan mereka dapat memenangkan persaingan tersebut lebih dari 50 tahun, sehingga pelanggannya sampai anak cucu mereka. Sesungguhnya mereka tidak melakukan sesuatu yang spesial, tetapi hanya melakukan bisnis seperti yang biasa mereka lakukan. Salah satu perusahaan kecil tersebut ada di pinggiran kota Dublin, Irlandia, tepatnya dikota kecil Glasthule. Perusahaan kecil tersebut bernama Caviston, yaitu toko makan serba ada milik keluarga Caviston. Perusahaan keluarga kecil yang menjual bahan pangan, ikan, daging unggas dan makanan lainnya. Perusahaan milik keluarga Caviston ini merupakan contoh bagaimana perusahaan kecil dapat bersaing dengan perusahaan besar. Toko kecil ini mengingatkan saya pada toko besi dari keluarga Tionghoa yang terletak di Jalan Tentara Pelajar Yogyakarta. Berawal dari hanya bertanya pada obat yang dapat memperlancar saluran yang macet sampai akhirnya membeli sesuatu yang pada awalnya tidak saya pertimbangkan untuk membeli. Saya dilayani dengan memberikan informasi yang sangat lengkap tentang obat yang dapat mencegah saluran tersumbat. Pada hal toko tersebut tidak menjual apa yang dikatakan. Dia menunjukkan kepada saya toko yang menjual obat tersebut. Inilah pelayan prima yang tidak pernah saya lupakan.

Toko Caviston

Demikian pula toko Caviston, perusahaan yang bermula dari bisnis kecil dapat tumbuh dan berkembang dan bahkan pada saat ekonomi berubah cepat dan terjadi bencana. Caviston bermula dari penjual ikan dan sekarang menjadi toko serba ada yang menjual keju, ikan, daging unggas, bahan-bahan makanan, makanan siap saji, makanan panggang. Apakah rahasia sukses toko tersebut ? Rahasianya adalah bahwa para staf di toko Caviston terkenal karena keramahan, sifat responsif dan pendekatan yang bersifat pribadi dalam melayani pelanggan.

Penjualan ikan dan produk-produk lain seringkali disertai dengan obrolan dan saran tentang bagaimana menyajikan produk tersebut. Kecakapan para karyawan sangat penting dalam menarik dan mempertahankan pelanggan. Mereka mengandalkan Caviston untuk mendapatkan produk segar, berkualitas dan berbagai pilihan produk. Perusahaan kecil ini tetap mempertahankan kualitas berbelanja yang sering dihubungkan dengan masa lalu, di mana para staf dan pemiliknya ramah dan mengenal pelanggan secara pribadi. Caviston dapat beradaptasi dengan baik dengan lingkungan tempat beroperasi.

Pemilik dan staf mengetahui apa yang diinginkan pelanggan dan pelanggan mengetahui apa yang dapat mereka harapkan dari toko tersebut. Caviston melakukannya tanpa beriklan sama sekali, walaupun Caviston terkenal di lingkungan tersebut karena mereka mensponsori tim rugby dan festival tahunan James Joice dan mereka terkenal karena demo masak yang dilakukan di dalam toko. Caviston mengandalkan reputasi mereka sebagai nilai jual dan pelanggan mereka untuk menyebarkan berita positif dari mulut ke mulut sebagai pengakuan atas kualitas layanan mereka. Pada 1994, Caviston dinobatkan sebagai toko makanan Irlandia tahun tersebut.

University College Dublin mengadakan wawancara dengan pelanggan Caviston. Pelanggan memberikan jawaban yang hampir sama. Pertama, mereka mengatakan bahwa karyawan Caviston suka menolong dan mudah didekati. Kedua, para karyawan mendengarkan pelanggan dan membuat mereka senang. Ketiga, para karyawan Caviston memiliki reputasi yang sangat baik dan dapat dipercaya. Keempat, belanja di Caviston terasa menyenangkan dan tanpa masalah.

”Allah mengasihi orang yang mudah dalam penjualan, pembelian, pelunasan dan penagihan. Barang siapa memberi penangguhan kepada orang yang dalam kesusahan (untuk membayar hutang) atau membebaskannya, maka Allah akan menghisabnya dengan penghisaban yang ringan. Barang siapa menerima kembali pembelian dari orang-orang yang menyesali pembeliannya, niscaya Allah membatalkan (menghapus) kesalahannya pada hari kiamat.” sabda Rasulullah SAW.

Kekuatan Penetapan Sasaran | Suyanto | ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN STMIK AMIKOM YOGYAKARTA

Kekuatan Penetapan Sasaran

Kekuatan Penetapan Sasaran

Mohammad Suyanto

Abstract


STUDI terhadap para lulusan Yale University pada 1953 dengan menggunakan wawancara ditanyakan apakah mereka mempunyai sasaran-sasaran yang jelas, yang spesifik, yang dituliskan dengan sebuah rencana untuk mencapainya.

Hanya 3% yang mempunyai sasaran tertulis. Dua puluh tahun kemudian pada 1973, para periset kembali mewawancarai yang masih hidup dari lulusan 1953 tersebut. Mereka menemukan bahwa 3% yang mempunyai sasaran tertulis itu jauh lebih kaya daripada gabungan 97% sisanya.

Para periset juga mengukur secara subjektif kebahagiaan dan suka cita mereka, ternyata yang 3% dengan sasaran tertulis tersebut lebih unggul dibandingkan yang 97% yang tidak menulis sasaran-sasarannya. Steven Spielberg juga pernah menulis “Steven Spielberg. Director (Sutradara)” di sebuah trailer yang tidak dipakai di Universal Studio. Saat ini Steven Spielberg, sebagai sutradara ternama di dunia.

Pengalaman pribadi saya mengajarkan bahwa menulis cita-cita dapat memotivasi diri untuk meraih cita-cita tersebut. Saya pernah menulis nama saya dengan “Prof Dr M Suyanto MA.” Tulisan tersebut saya pandangi yang membuat saya tersenyum malu. Saat itu seperti tidak mungkin saya dapat meraih gelar sepanjang itu.

Langkah yang harus saya tempuh hanya ingin seperti paman saya Drs Mohammad Kamal MSc, yang menjadi dosen dan mempunyai gelar Drs, MSc. Tetapi saya yang hidup di desa Banjarsari yang terletak di lembah Gunung Wilis tersebut seperti tidak akan mungkin. Tetapi peluang mulai muncul dengan Paman saya Sutarjo membawa saya ke Yogyakarta untuk pindah sekolah dari SMA 1 Madiun ke SMA 2 Yogyakarta, ketika naik kelas 2. Kata Paman saya agar saya dapat kuliah di UGM. Saya harus meninggalkan nenek saya yang telah membesarkan saya sejak dari usia 3 tahun. Saya hanya bisa menciumi nenek dan menangis, demikian juga nenek saya juga sebenarnya tidak tega melihat saya.

Sebenarnya nenek saya ingin mengasuh saya sampai ia dipanggil menghadap Allah. Saya meniti karir di Yogya sebagai salesman buku, salesman bahan pengkilap mobil, salesman telex lewat telepon dan salesman komputer, sehingga seakan-akan cita-cita yang saya tulis tersebut sangat jauh menyimpang. Apalagi saya kemudian sebagai pengusaha, bukan sebagai dosen ataupun ilmuwan.

Meskipun saya sebagai pengusaha, kata yang pernah saya tulis tersebut selalu muncul di benak saya tanpa sadar. Saya masih mempunyai cita-cita suatu saat menjadi dosen atau ilmuwan. Cita-cita itu menguat saat saya menjadi Guru di SMP dan SMA Muhammadiyah Kasihan Bantul. Saat ini tidak terasa, kata yang pernah saya tulis itu sudah cukup dekat untuk saya raih.

Saya berdoa mudah-mudahan Allah mengizinkan untuk meraih gelar itu dua tahun lagi, jika itu baik bagi saya. Tetapi kalau Allah menghendaki lain, barangkali itu yang terbaik bagi saya. Saya hanya akan mengatakan bahwa dengan menulis apa yang kita inginkan dapat menimbulkan kekuatan yang luar biasa. Jika yang kita tulis itu kita iringi dengan doa dan kerja keras, Insya Allah apa yang kita inginkan itu dapat kita capai

Mandiri - Terdepan, Terpercaya, Tumbuh bersama Anda.

Kisah sukses : Denny Delyandri Kek Pisang Villa

Dengan menyandang gelar Sarjana Teknik di pertengahan tahun 2003 dari sebuah Universitas Negeri di Sumatra ternyata tidak membuat segalanya menjadi mudah. Saya bukanlah dari keluarga yang berada, sehingga untuk memperoleh impian saya harus benar-benar bangun dengan jerih payah sendiri. Berbekal ijazah, saya yakin bisa menjadi harapan untuk orang tua dan keluarga. Akan tetapi nyatanya tidak. Gaji pertama yang saya peroleh hanya Rp.1.200.000,-. Setelah ditambah ini itu selama 3 tahun hanya tertambah dua kalinya, tapi harus mengorbankan seluruh waktu. Dalam benak, khayalan menjadi tumpuan keluarga tak mungkin terpenuhi kalau hanya menjalankan kehidupan seperti ini.

Dalam proses pembelajaran muncul ide-ide bisnis. Ketika bulan-bulan pertama menikah di tahun 2004 saya mencoba membuat usaha rumahan dengan modal kado hadiah kawinan yaitu kompor minyak tanah. Istri saya menggoreng kerupuk yang dibeli di pasar, dan dikemas sederhana kemudian saya distribusikan ke warung-warung sekitar juga rumah makan. Lumayan, tapi capek. Karena dikerjakan sendiri. Ketika timbul ide untuk memperkerjakan saudara untuk membantu usaha, ternyata tidak ada yang bersedia. Akhirnya usaha pertama yang saya bangun tutup dengan sempurna. Tapi herannya tak ada kata gagal bagi saya..Muncul ide baru.
Karena lumayan suka mencoba resep kue, akhirnya muncul ide untuk memasarkan produk sederhana jajanan pasar ke kantin-kantin PT di Mukakuning. Diawali dari tempat kerja saya bekerja. Berjalan sempurna, tapi tetap saja capek karena hanya dikerjakan sendiri. Dalam masa pencarian saya menemukan sebuah buku yang cukup memukau. Rich Dad Poor Dad, benar-benar membuat saya lebih berani mengambil resiko. Sedikit pinjaman dari koperasi membuat saya mempunyai rumah makan kecil-kecilan di komplek perumahan tempat saya tinggal. Tapi hanya berusia dua bulan saja, karena saya memang tidak punya pengalaman di bidang itu, ditambah sudah ada saingan sehingga sulit untuk bersaing. Ketika itu saya mempunyai tiga karyawan dan satu koki. Untuk mengurangi kerugian, saya menjual sebagian harta peninggalan rumah makan. Cukup menyakitkan. Inilah kali pertama saya mengalami kerugian yang cukup besar untuk ukuran saya, 8 juta rupiah. Namun tak cukup sampai disitu. Saya yakin bahwa suatu saat saya pasti bisa menjadi seperti yang saya harapkan. Yaitu punya usaha dan bisa membantu orang sekitar terutama keluarga.

Saya menemukan ide baru lagi yang lebih fresh dan gila. Ini diilhami ketika saya membeli CD seminar motivasi melalui internet. Event Organizer. Itu muncul begitu saja. Saya berusaha mencaritahu apa EO sebenarnya melalui buku-buku dan internet. Saya ingin mendatangkan seorang motivator yang dikemas menjadi seminar yang eksklusif dan menarik. Melalui informasi beberapa teman, mereka merekomendasikan nama Jaya Setiabudi. Dengan cepat proposal seminar bersama Pak Jaya saya selesaikan. Itulah awal saya berkenalan dengan Pak Jaya. Diluar dugaan ternyata Pak Jaya sudah begitu seringnya memberikan seminar diwilayah Mukakuning. Namun beliau menyarankan untuk memanggil Bob Sadino, pengusaha gaek yang tersohor itu. Dengan cepat no. telp Om Bob didapat. Dan saya langsung menghubungi beliau. Tapi dengan alasan kondisi yang tidak mengijinkan untuk bepergian keluar kota, maka saya mengundang Made Ngurah Bagiana pengusaha burger yang tumbuh dari bawah. Tapi tak cukup sampai disitu, saya menambah tantangan dengan mengundang Helmi Yahya sebagai pembicara utama. Tapi kenyataannya peserta tidak seperti yang saya harapkan. Saat itu saya mengalami kerugian yang sangat sangat besar untuk ukuran saya.

Lagi-lagi tak menyurutkan niat saya untuk berusaha. Malah kini saya benar-benar ingin fokus di bisnis, karena pada akhirnya saya berenti bekerja. Saya memang harus memutar otak agar bisa melanjutkan impian dan hidup. Ditambah saya telah punya bayi kecil. Akhirnya dalam rangka memperingati hari anak Indonesia saya mengangkat acara di salah satu Mall terkemuka di Batam. Dengan tema Ceria Anak Indonesia, saya menggandeng merk susu formula ternama sebagai co.partner. Dengan dasar bahwa susu formula tersebut mempunyai layanan customer care setiap bulannya, maka saya memanfaatkan itu sebagai sarana promosi saya yang paling efektif. Tanpa saya duga antusias ibu-ibu terhadap acara saya sangat besar, akhirnya ini awal pencerahan bagi saya. Ini usaha saya yang mendatangkan cukup banyak rupiah. Tawaran mengisi acara serupa selama beberapa waktu sempat menghampiri ada yang menguntungkan dan ada juga yang sepi peserta.

Muncul lagi ide berikutnya, terlahir karena saya selalu haus untuk menimba ilmu di bidang kewirausahaan akhirnya dengan bakat saya yang suka cuap-cuap di hadapan teman-teman di PT, saya memberanikan membuka entrepreneur course. Dengan biaya seadanya dan pinjaman ruko dari teman, usaha ini berjalan 3 bulan dengan coach saya sendiri. Ketika itu ide awal bisnis Kek pisang sudah muncul. Pemasaran masih di sekitar rumah saja. Karena antusias dari tetangga lumayan OK, saya memberanikan untuk memperluas pasar ke daerah Mukakuning. Dengan konsep kemitraan, produk saya bisa dinikmati pekerja di Mukakuning. Berjalan dengan waktu saya mulai merasakan prospek bisnis saya kali ini cukup bagus. Untuk itu sampai sekarang saya tetap focus pada bisnis Kek Pisang ini .

Awalnya dengan peralatan yang sangat sederhana saya dan istri memproduksi kek pisang ini . Dengan resep original saya yakin kek pisang ini bisa menjadi makanan yang banyak diminati berbagai lapisan masyarakat dan usia.Ternyata benar awalnya saya dan istri hanya memproduksi 3 loyang sehari dengan pemasaran ke tetangga dan warung sekitar rumah. Dengan system kemitraan kek pisang saya melaju bak roket di kawasan Batamindo. Mulai dengan produksi dengan kapasitas oven yang sangat minim akhirnya saya bisa membeli oven yang bisa memuat 20 loyang ukuran 30x 10 cm setiap sekali pembakaran. Saya merekrut 1 orang karyawan untuk membantu produksi disamping saya sendiri juga turut bekerja, tapi karena permintaan cukup ramai akhirnya saya memutuskan untuk menambah 2 orang karyawan lagi dalam hitungan waktu 2 minggu. Semua dikerjakan di dalam rumah tempat tinggal saya yang bertipe 36. Enam bulan saya harus berbagi dengan tempat usaha, akhirnya dengan sedikit keuntungan dan pinjaman dari Bank, saya menyewa sebuah Ruko. Saat di ruko karyawan saya berjumlah 7 orang. Sistem kemitraan ini muncul dengan harapan pemasaran dari mulut ke mulut lebih efektif, sehingga mitra selalu berpromosi di lingkungan kerjanya dan sekitarnya. Saya memberikan fee Rp3000,- per kotaknya. Dalam waktu 6 bulan mitra saya mencapai 300 orang dengan wilayah kerja meliputi Batamindo, Tanjung Uncang, kawasan industri di Batam Centre. Selain itu saya juga menyiapkan bonus-bonus menarik apabila mitra berhasil mencapai target yaitu berupa uang tunai Rp.100rb untuk setiap penjualan 100 kotak. Hal ini dengan maksud supaya mitra terus giat mempromosikan produk saya, selain menambah pendapatan mitra tentunya.

Namun setelah berjalan setahun sistem kemitraan agak menurun ditambah bahan baku produksi meningkat tajam, akhirnya saya terpaksa melakukan revisi harga kek pisang. Dan ini tidak menguntungkan di pihak mitra, karena harga susah terjangkau dikalangan pekerja PT. Saya pun memutar otak bagaimana agar karyawan saya bisa tetap bekerja dan mendapat upah yang layak. Akhirnya terilham dari Batam yang tidak mempunyai Oleh-Oleh atau buah tangan. Saya mencoba menembus pasar dan memposisikan kek pisang saya sebagai buah tangan atau oleh-oleh yang harus dicari masyarakat yang ingin keluar kota. Bika ambon yang dari medan awalnya bukan makanan asli Medan, tapi karena dengan pembelajaran yang sempurna bika Ambon berhasil merebut hati wisatawan yang berkunjung ke Medan. Bika Ambon- nya Medan berhasil mengedukasi pasar, kenapa saya tidak..???

Saya mulai mempromosikan Kek Pisang saya sebagai sesuatu yang harus dibawa ketika meninggalkan Batam. Dengan Billboad, promosi di media, dll diharapkan produk saya bisa dikenal luas khususnya bagi masyarakat yang ingin meninggalkan kota Batam. Dengan perubahan misi ini, akhirnya produksi kek pisang saya kembali bergairah. Saya menambah 3 orang karyawan lagi untuk system delivery.

Melihat peluang yang cukup bagus, dan keunikan produk ini, saya memberanikan diri untuk membuka 3 cabang lagi di daerah Batam Centre, Nagoya, dan Penuin. Semua ini dengan bantuan dari pihak Bank yang telah mulai percaya kepada saya. Tantangan dan resiko yang saya ambil semakin besar. 3 outlet baru bisa saya buka dalam waktu 3 bulan. Belum genap sebulan sambutan pasar sangatlah bagus, untuk ukuran toko yang baru buka. Saya terus belajar melalui buku-buku dan media internet agar misi saya bisa diterima masyarakat. Hingga saat ini saya telah memiliki 6 outlet dan 85 karyawan. Saya optimis impian saya menjadi tumpuan hidup keluarga bisa terwujud. Karena sesungguhnya tidak ada yang tidak mungkin jika kita menggantungkan impian dan proses pembelajaran yang tak kenal lelah, semua yang kita impikan akan datang dihadapan kita. Di usia saya yang masih muda, 30 tahun saya yakin oleh-oleh khas Batam kek pisang Villa bisa melesat bak roket di Batam khususnya dan di Indonesia umumnya.Amiin?

Mandiri - Terdepan, Terpercaya, Tumbuh bersama Anda.

Kisah sukses : Denny Delyandri Kek Pisang Villa

Dengan menyandang gelar Sarjana Teknik di pertengahan tahun 2003 dari sebuah Universitas Negeri di Sumatra ternyata tidak membuat segalanya menjadi mudah. Saya bukanlah dari keluarga yang berada, sehingga untuk memperoleh impian saya harus benar-benar bangun dengan jerih payah sendiri. Berbekal ijazah, saya yakin bisa menjadi harapan untuk orang tua dan keluarga. Akan tetapi nyatanya tidak. Gaji pertama yang saya peroleh hanya Rp.1.200.000,-. Setelah ditambah ini itu selama 3 tahun hanya tertambah dua kalinya, tapi harus mengorbankan seluruh waktu. Dalam benak, khayalan menjadi tumpuan keluarga tak mungkin terpenuhi kalau hanya menjalankan kehidupan seperti ini.

Dalam proses pembelajaran muncul ide-ide bisnis. Ketika bulan-bulan pertama menikah di tahun 2004 saya mencoba membuat usaha rumahan dengan modal kado hadiah kawinan yaitu kompor minyak tanah. Istri saya menggoreng kerupuk yang dibeli di pasar, dan dikemas sederhana kemudian saya distribusikan ke warung-warung sekitar juga rumah makan. Lumayan, tapi capek. Karena dikerjakan sendiri. Ketika timbul ide untuk memperkerjakan saudara untuk membantu usaha, ternyata tidak ada yang bersedia. Akhirnya usaha pertama yang saya bangun tutup dengan sempurna. Tapi herannya tak ada kata gagal bagi saya..Muncul ide baru.
Karena lumayan suka mencoba resep kue, akhirnya muncul ide untuk memasarkan produk sederhana jajanan pasar ke kantin-kantin PT di Mukakuning. Diawali dari tempat kerja saya bekerja. Berjalan sempurna, tapi tetap saja capek karena hanya dikerjakan sendiri. Dalam masa pencarian saya menemukan sebuah buku yang cukup memukau. Rich Dad Poor Dad, benar-benar membuat saya lebih berani mengambil resiko. Sedikit pinjaman dari koperasi membuat saya mempunyai rumah makan kecil-kecilan di komplek perumahan tempat saya tinggal. Tapi hanya berusia dua bulan saja, karena saya memang tidak punya pengalaman di bidang itu, ditambah sudah ada saingan sehingga sulit untuk bersaing. Ketika itu saya mempunyai tiga karyawan dan satu koki. Untuk mengurangi kerugian, saya menjual sebagian harta peninggalan rumah makan. Cukup menyakitkan. Inilah kali pertama saya mengalami kerugian yang cukup besar untuk ukuran saya, 8 juta rupiah. Namun tak cukup sampai disitu. Saya yakin bahwa suatu saat saya pasti bisa menjadi seperti yang saya harapkan. Yaitu punya usaha dan bisa membantu orang sekitar terutama keluarga.

Saya menemukan ide baru lagi yang lebih fresh dan gila. Ini diilhami ketika saya membeli CD seminar motivasi melalui internet. Event Organizer. Itu muncul begitu saja. Saya berusaha mencaritahu apa EO sebenarnya melalui buku-buku dan internet. Saya ingin mendatangkan seorang motivator yang dikemas menjadi seminar yang eksklusif dan menarik. Melalui informasi beberapa teman, mereka merekomendasikan nama Jaya Setiabudi. Dengan cepat proposal seminar bersama Pak Jaya saya selesaikan. Itulah awal saya berkenalan dengan Pak Jaya. Diluar dugaan ternyata Pak Jaya sudah begitu seringnya memberikan seminar diwilayah Mukakuning. Namun beliau menyarankan untuk memanggil Bob Sadino, pengusaha gaek yang tersohor itu. Dengan cepat no. telp Om Bob didapat. Dan saya langsung menghubungi beliau. Tapi dengan alasan kondisi yang tidak mengijinkan untuk bepergian keluar kota, maka saya mengundang Made Ngurah Bagiana pengusaha burger yang tumbuh dari bawah. Tapi tak cukup sampai disitu, saya menambah tantangan dengan mengundang Helmi Yahya sebagai pembicara utama. Tapi kenyataannya peserta tidak seperti yang saya harapkan. Saat itu saya mengalami kerugian yang sangat sangat besar untuk ukuran saya.

Lagi-lagi tak menyurutkan niat saya untuk berusaha. Malah kini saya benar-benar ingin fokus di bisnis, karena pada akhirnya saya berenti bekerja. Saya memang harus memutar otak agar bisa melanjutkan impian dan hidup. Ditambah saya telah punya bayi kecil. Akhirnya dalam rangka memperingati hari anak Indonesia saya mengangkat acara di salah satu Mall terkemuka di Batam. Dengan tema Ceria Anak Indonesia, saya menggandeng merk susu formula ternama sebagai co.partner. Dengan dasar bahwa susu formula tersebut mempunyai layanan customer care setiap bulannya, maka saya memanfaatkan itu sebagai sarana promosi saya yang paling efektif. Tanpa saya duga antusias ibu-ibu terhadap acara saya sangat besar, akhirnya ini awal pencerahan bagi saya. Ini usaha saya yang mendatangkan cukup banyak rupiah. Tawaran mengisi acara serupa selama beberapa waktu sempat menghampiri ada yang menguntungkan dan ada juga yang sepi peserta.

Muncul lagi ide berikutnya, terlahir karena saya selalu haus untuk menimba ilmu di bidang kewirausahaan akhirnya dengan bakat saya yang suka cuap-cuap di hadapan teman-teman di PT, saya memberanikan membuka entrepreneur course. Dengan biaya seadanya dan pinjaman ruko dari teman, usaha ini berjalan 3 bulan dengan coach saya sendiri. Ketika itu ide awal bisnis Kek pisang sudah muncul. Pemasaran masih di sekitar rumah saja. Karena antusias dari tetangga lumayan OK, saya memberanikan untuk memperluas pasar ke daerah Mukakuning. Dengan konsep kemitraan, produk saya bisa dinikmati pekerja di Mukakuning. Berjalan dengan waktu saya mulai merasakan prospek bisnis saya kali ini cukup bagus. Untuk itu sampai sekarang saya tetap focus pada bisnis Kek Pisang ini .

Awalnya dengan peralatan yang sangat sederhana saya dan istri memproduksi kek pisang ini . Dengan resep original saya yakin kek pisang ini bisa menjadi makanan yang banyak diminati berbagai lapisan masyarakat dan usia.Ternyata benar awalnya saya dan istri hanya memproduksi 3 loyang sehari dengan pemasaran ke tetangga dan warung sekitar rumah. Dengan system kemitraan kek pisang saya melaju bak roket di kawasan Batamindo. Mulai dengan produksi dengan kapasitas oven yang sangat minim akhirnya saya bisa membeli oven yang bisa memuat 20 loyang ukuran 30x 10 cm setiap sekali pembakaran. Saya merekrut 1 orang karyawan untuk membantu produksi disamping saya sendiri juga turut bekerja, tapi karena permintaan cukup ramai akhirnya saya memutuskan untuk menambah 2 orang karyawan lagi dalam hitungan waktu 2 minggu. Semua dikerjakan di dalam rumah tempat tinggal saya yang bertipe 36. Enam bulan saya harus berbagi dengan tempat usaha, akhirnya dengan sedikit keuntungan dan pinjaman dari Bank, saya menyewa sebuah Ruko. Saat di ruko karyawan saya berjumlah 7 orang. Sistem kemitraan ini muncul dengan harapan pemasaran dari mulut ke mulut lebih efektif, sehingga mitra selalu berpromosi di lingkungan kerjanya dan sekitarnya. Saya memberikan fee Rp3000,- per kotaknya. Dalam waktu 6 bulan mitra saya mencapai 300 orang dengan wilayah kerja meliputi Batamindo, Tanjung Uncang, kawasan industri di Batam Centre. Selain itu saya juga menyiapkan bonus-bonus menarik apabila mitra berhasil mencapai target yaitu berupa uang tunai Rp.100rb untuk setiap penjualan 100 kotak. Hal ini dengan maksud supaya mitra terus giat mempromosikan produk saya, selain menambah pendapatan mitra tentunya.

Namun setelah berjalan setahun sistem kemitraan agak menurun ditambah bahan baku produksi meningkat tajam, akhirnya saya terpaksa melakukan revisi harga kek pisang. Dan ini tidak menguntungkan di pihak mitra, karena harga susah terjangkau dikalangan pekerja PT. Saya pun memutar otak bagaimana agar karyawan saya bisa tetap bekerja dan mendapat upah yang layak. Akhirnya terilham dari Batam yang tidak mempunyai Oleh-Oleh atau buah tangan. Saya mencoba menembus pasar dan memposisikan kek pisang saya sebagai buah tangan atau oleh-oleh yang harus dicari masyarakat yang ingin keluar kota. Bika ambon yang dari medan awalnya bukan makanan asli Medan, tapi karena dengan pembelajaran yang sempurna bika Ambon berhasil merebut hati wisatawan yang berkunjung ke Medan. Bika Ambon- nya Medan berhasil mengedukasi pasar, kenapa saya tidak..???

Saya mulai mempromosikan Kek Pisang saya sebagai sesuatu yang harus dibawa ketika meninggalkan Batam. Dengan Billboad, promosi di media, dll diharapkan produk saya bisa dikenal luas khususnya bagi masyarakat yang ingin meninggalkan kota Batam. Dengan perubahan misi ini, akhirnya produksi kek pisang saya kembali bergairah. Saya menambah 3 orang karyawan lagi untuk system delivery.

Melihat peluang yang cukup bagus, dan keunikan produk ini, saya memberanikan diri untuk membuka 3 cabang lagi di daerah Batam Centre, Nagoya, dan Penuin. Semua ini dengan bantuan dari pihak Bank yang telah mulai percaya kepada saya. Tantangan dan resiko yang saya ambil semakin besar. 3 outlet baru bisa saya buka dalam waktu 3 bulan. Belum genap sebulan sambutan pasar sangatlah bagus, untuk ukuran toko yang baru buka. Saya terus belajar melalui buku-buku dan media internet agar misi saya bisa diterima masyarakat. Hingga saat ini saya telah memiliki 6 outlet dan 85 karyawan. Saya optimis impian saya menjadi tumpuan hidup keluarga bisa terwujud. Karena sesungguhnya tidak ada yang tidak mungkin jika kita menggantungkan impian dan proses pembelajaran yang tak kenal lelah, semua yang kita impikan akan datang dihadapan kita. Di usia saya yang masih muda, 30 tahun saya yakin oleh-oleh khas Batam kek pisang Villa bisa melesat bak roket di Batam khususnya dan di Indonesia umumnya.Amiin?

Kelola FoodFezt, Andi Terbaik II Wirausaha Mandiri 2010 | Universitas Gadjah Mada

Kelola FoodFezt, Andi Terbaik II Wirausaha Mandiri 2010

Kelola FoodFezt, Andi Terbaik II Wirausaha Mandiri 2010

Menjadi wirausaha (entrepreneur) mungkin sudah menjadi pilihan hidup Fajar Handika. Meski sempat terpuruk beberapa kali dalam usahanya, tidak menyurutkan langkah mahasiswa Magister Manajemen UGM ini untuk terus menekuni dunia wirausaha. Tidak sia-sia, usaha terakhirnya di bidang kuliner dengan membuka FoodFezt berhasil mengantar pria ini menjadi Terbaik II dalam Kompetisi Wirausaha Mandiri 2010 kategori Boga Kelompok Pascasarjana.

Penghargaan ini membuatnya semakin mantap dalam berwirausaha, juga semakin menguatkan prinsip yang selama ini ia pegang bahwa usaha merupakan proses, bukan datang dengan sendirinya. Dalam membangun usaha, ia sempat mengalami jatuh bangun. Andi, begitu panggilan akrabnya, pernah bekerja di warung internet. Namun, karena merasa tidak betah, pekerjaan itu ditinggalkannya. Andi pun lantas mencoba membuka kafe. Karena tidak membawa banyak keuntungan, ia juga akhirnya menutup usaha ini. Sempat berhenti sejenak, Andi kemudian mencoba bisnis angkringan. Lagi-lagi usaha ini mengalami nasib yang sama.

Di tengah kegalauan, Andi mulai berpikir tentang usaha yang mungkin dapat berkembang dan memberikan hasil yang lumayan. Hingga pada suatu ketika, ia teringat hobinya makan bersama dengan teman-temannya. Situasi makan di food court pun terbayang di benaknya. "Jadi, sesungguhnya FoodFezt yang kemudian saya bangun ini hanyalah menyempurnakan apa yang ada di food court selama ini, bagaimana menyederhanakan agar costumer tidak ribet dalam memesan dan membayar makanan. Nah, di FoodFezt ini cukup simpel, customer duduk dan menunggu menu yang diorder karena telah tersedia sistem pembagian yang lebih baik," terang Andi, Jumat (28/1) di Ruang Fortakgama.

Dijelaskannya bahwa dengan FoodFezt Integrated Kitchen System (FIKS), waiter dapat terhubung ke dapur-dapur secara nirkabel dengan memanfaatkan alat PDA. Dengan sistem semacam ini, manajer dimungkinkan untuk memonitor aktivitas yang terjadi. "Dengan demikian, dari jumlah pengunjung, makanan apa yang dipesan, dan berapa lama pesanan itu sampai secara real time dari mana pun terpantau selama terkoneksi dengan internet," jelasnya.

Dengan sistem semacam ini, terpantau tak kurang sejumlah 400 hingga 500 pengunjung mendatangi resto FoodFezt tiap harinya. Mereka sebagian besar berasal dari kalangan menengah, dengan rentang usia di bawah 30 tahun. "Namun, berkat pengembangan menu, para pengunjung pun kini bervariasi dari mahasiswa, karyawan, hingga segmen keluarga," lanjut Andi.

Ada bermacam menu yang ditawarkan. Tercatat lebih dari 100 macam menu tersaji di FoodFezt, mulai dari mi hitam sampai dengan nasi kebuli, dari jamur portabello hingga sate kambing buntel, makanan India, Timur Tengah, Eropa, dan Jawa, juga menu vegetarian dan berbagai variasi lainnya.

Andi mengungkapkan konsep FoodFezt sesungguhnya hanya mengumpulkan para pengusaha makanan dalam satu tempat. Tidak mengherankan bila FoodFezt yang beralamat di Pandega Karya, Jalan kaliurang km 5,5 Yogyakarta ini menyediakan 11 dapur/ tenant. "Masing-masing tenant ada satu pengusaha makanan dan masing-masing tenant memiliki 3 pekerja sehingga total karyawan yang dimiliki mencapai sekitar 80 orang. Tentu saja, ini menjadi usaha yang berhasil menyerap lapangan pekerjaan," ujar General Manager FoodFezt ini.

Meski hanya mengambil 20% keuntungan dari para pemilik usaha makanan, omzet FoodFezt milik Andi cukup menggiurkan, yakni mencapai 400 juta rupiah/ bulan karena di samping layanan langsung, FoodFezt melayani pula pesana via telepon dan Yahoo Messenger/GTalk dengan id: foodfezt. Foodfezt dalam pelayananannya juga mengurangi penggunaan kertas dan tidak menggunakan styrofoam serta tas plastik. "Sebagai gantinya, kami menggunakan biodegradable packaging dan paperbag yang bisa terurai secara natural," tambah Andi.

Untuk menjaga kualitas, FoodFezt secara berkala mengadakan evaluasi terhadap berbagai menu. Hal ini dilakukan agar cita rasa tetap dapat bertahan. "Ya, memang kita mendatangkan foodtest. Evaluasi ini menguji apakah rasanya tetap sama atau sudah berubah," terangnya.

Meski belum merasa puas, Andi kini sedikit lega. Ia mengakui bahwa bakat sebagai pengusaha sesungguhnya telah muncul sejak kecil. Sejak menjalani masa anak-anak di Kota Comal, Pemalang, Jawa tengah, ia sudah memberanikan diri berdagang mercon. Selepas itu, Andi melanjutkan pendidikan di Comal dan SMA Negeri 6 Yogyakarta pada tahun 1996. "Ke depan memang ingin mengembangkan sayap di daerah Seturan, tapi hingga kini masih dalam taraf negosiasi," tambah Andi sembari tersenyum.

Ibnu Wakhid, S.T.P., M.T. selaku pembina Center Entrepreneurship Development (CED) UGM merasa bersyukur atas kegigihan Fajar Handika. Ia turut merasa bangga atas prestasi yang diraih Andi. Prestasi ini merupakan bukti UGM selalu menjadi langganan berprestasi di ajang ini. "Meskipun tidak seramai tahun lalu, namun dengan raihan ini membuktikan UGM selalu meraih prestasi di ajang kompetisi Wirausaha Mandiri," pungkasnya.