FoodFezt: Teknologi Digital Buat Kuliner, Kenapa Tidak? (Review FoodFezt di SKH Kedaulatan Rakyat)

TEKNOLOGI informasi (TI) telah merambah segala lini kehidupan masyarakat. Perkembangan teknologi digital memang luar biasa, termasuk di negara berkembang seperti Indonesia. Para praktisi bisnis pun banyak yang memanfaatkan fasilitas TI/ teknologi digital untuk meningkatkan efisiensi, efektivitas dan berbagai nilai tambah lainnya.
Fajar Handika, General Manager Jogja Foodfest di Jalan Kaliurang Yogyakarta, termasuk salah seorang pebisnis yang mengedepankan penggunaan perangkat digital di rumah makannya, krena berbagai nilai plus yang bisa diperoleh dari penerapan TI tersebut. Kebetulan pula Fajar merupakan jebolan Teknik Komputer UGM, sehingga apa yang ia peroleh di kampus pun diterapkan dalam bisnisnya.
"Kami menerapkan teknologi Foodfest Integrated Kit chen System (FIKS) yang secara sederhana bisa diartikan sebagai sebuah konsep integral antara waitress-kitchen-cashier-back office serta realtime. Sebenarnya ini juga bukan konsep terlalu baru karena beberapa restoran di Jakarta dan Singapura banyak yang sudah menggunakan perangkat seperti PDA sebagai gadget waitress ketika mereka menangani pesanan," jelas Fajar Handika didampingi Public Relations/ Marketing Jogja Foodfest Faiz kepada KR baru-baru ini.
Beberapa piranti yang memegang peranan penting dalam konsep FIKS antara lain internet server, database server, POS server, order terminal, kitchen monitor, print servers, printers, wireless access points, router, dan PDA.Fajar yang memang punya minat besar terhadap TI menuturkan, internet server berfungsi untuk menghubungkan database server dengan dunia luar. Dengan alat ini, semua aktivitas di rumah makan bisa dimonitor melalui virtual private network/VPN over internet dari mana saja. Artinya, si pemilik rumah makan bisa mengetahui berapa orang yang sedang makan, siapa saja waitress yang melayani, apa saja pesanannya, dan berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk menyajikan pesanan kepada pelanggan. Termasuk pengunjung yang sudah pesan namun belum juga terlayani akan dapat diketahui, karena dari layar monitor komputer terdapat beberapa warna sebagai indikator lama tidaknya pengunjung menunggu menu.
Elemen penting lainnya adalah router yang berfungsi sebagai jantung dari FIKS. Semua perangkat yang menggunakan koneksi kabel tersambung ke router ini. Sedangkan WAP fungsinya mirip router, tapi nirkabel. Semua PDA dan komputer yang terhubung ke jaringan secara nirkabel akan terhubung ke sini dengan protokol wifi dan diteruskan ke router.
Yang tidak kalah pentingnya database server. Komponen ini berupa sebuah komputer server yang berisi semua data transaksi yang terjadi. Segala kegiatan apapun yang berhubungan dengan order akan dicatat di sini, dan PDA menjadi bawaan wajib bagi para waitress. Piranti ini digunakan para waitress untuk melakukan input order, melihat ketersediaan menu, maupun status meja. Data pemesanan itu itu akan disinkronisasi secara realtime dengan database server.
Manfaat penggunaan teknologi digital di bidang kuliner, menurut Fajar Handika, penggunaan perangkat TI atau digital dalam bisnis kuliner cukup menguntungkan dari sisi efisiensi biaya, waktu, tenaga, dan sebagainya. Ketika pemilik restoran mengimplementasikan teknologi digital dengan sistem tertentu, akan mendapat beberapa benefit seperti efisiensi sumber daya manusia, cost cutting pembuatan captain order, dan meminimalisasi human error.

"Dengan sistem seperti ini, akan ada data penjualan secara detail berdasarkan waktu dan jenis makanan yang terjual. Pemilik resto bisa menganalisis berapa jumlah tamu yang datang dalam kurun waktu tertentu, berapa persen penjualan es teh dibanding es jeruk, dan sebagainya. Jadi kenapa tidak menggunakan TI di bidang kuliner?" ucap Fajar Handika.
Memang untuk itu dibutuhkan investasi. Tapi menurut Fajar, mahal tidaknya investasi untuk perangkat digital tersebut relatif. Sebab, jika dengan sistem manual, konvensional dan tradisional, berapa biaya yang harus dikeluarkan untuk sumber daya manusia yang bertambah pada saat restoran ramai, berapa tenaga yang harus dikeluarkan jika pelayan harus naik-turun lantai atas dan bawah melayani tamu dengan mondar-mandir, berapa biaya yang harus dikeluarkan untuk mencetak nota pesanan (captain order) yang kemudian hanya dibuang, bagaimana risiko kesalahan membaca jika pesanan hanya ditulis tangan yang berdampak pada turunnya kualitas layanan, bagaimana risiko sistem administrasi keuangan karena menggantungkan cash register saja tentunya tidak cukup, serta beragam pertimbangan lainnya.

FoodFezt: Desember 2008

YOGYA (KR) - Banyak cara dilakukan restoran atau rumah makan untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas waktu, biaya maupun tenaga, dengan tetap mengedepankan cita rasa khas sebagai unggulannya. Namun Food Fest di Jalan Kaliurang km 5,5 Yogyakarta ini lain dengan resto atau rumah makan umumnya. Fajar Handika yang jebolan Teknik Komputer UGM, memilih memadukan information technology (IT) dengan keragaman menu-menu khas yang menjadi unggulan setiap makanan dan minuman yang disajikan.
Seluruh layanan Foodfest didukung penerapan IT. Sehingga pelayan restoran pun saat menghampiri pengunjung untuk mencatat pesanan menu bukannya membawa kertas catatan dan pulpen, melainkan membawa PDA. Dengan PDA itulah pelayan mencatat segala pesanan pengunjung. “Sebenarnya bukan kok gaya atau mengikuti trend, tapi memang pekerjaan menjadi lebih efisien dan efektif dari aspek biaya, waktu, dan tenaga. Jadi pelayan di sini minimal juga harus bisa mengoperasikan komputer,” ujar Fajar Handika yang menjadi owner sekaligus General Manager Foodfest yang dirintisnya sejak sekitar 1,5 tahun lalu itu.
Menurut Fajar, resto yang menyuguhkan lebih dari 100 menu unggulan dengan cita rasa khas, bukan seperti rumah makan serba ada yang rasanya standar ini telah menerapakan teknologi Foodfest Integrated Kitchen System (FIKS) yang secara sederhana bisa diartikan sebagai sebuah konsep integral antara waitress-kitchen-cashier-backoffice serta realtime. “Di Jakarta dan Singapura sudah banyak yang menggunakan perangkat seperti PDA sebagai gadget waitress ketika mereka menangani pesanan. Hanya saja, rata-rata restoran punya satu dapur atau bar, sedangkan Foodfest memiliki 11 dapur dan satu bar,” ujar Fajar Handika didampingi Faiz, marketing sekaligus public relations Foodfest.
Beberapa piranti pendukung FIKS antara lain internet server, database server, POS server, order terminal, kitchen monitor, print servers, printers, wireless access points, router, dan PDA. Dengan piranti ini, semua aktivitas di rumah makan ini bisa dimonitor dari mana saja. “Jadi saya bisa mengetahui berapa orang yang sedang makan, siapa saja yang melayani, apa saja pesanannya, dan sebagainya ,” kata Fajar.

Expo Wirausaha Mandiri 2011 Digelar | Bataviase.co.id

Expo Wirausaha Mandiri 2011

Pameran wirausaha muda bertajuk Expo Wirausaha Mandiri 2011. sebagai kelanjutan dari kegiatan kompetisi Wirausaha Mandiri 2010 yang menjaring 3.395 mahasiswa.

Acara akan berlangsung di Ruang Plenary Assembly. Jakarta Convention Center (JCC), Senayan, pada 20-22 Januari 2011. Rencananya acara akan dibuka oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Pameran ini akan diawali dengan workshop yang diikuti 4.200 peserta dan Penganugerahan Wirausaha Mandiri 2011.

Program Wirausaha Mandiri merupakan bentuk program tanggungjawab sosial atau CSR (Corporate Social Responsibility) Bank Mandiri, sekaligus dukungan untuk menumbuhkan semangat kewirausahaan di kalangan kaum muda.

Selain mendorong pertumbuhan penciptaan lapangan kerja baru, program ini bertujuan mengubah pola pikir mahasiswa untuk berwirausaha sehingga mengurangi ketergantungan pada ketersediaan lapangan kerja.

Direktur Finance Strategy Bank Mandiri. Pahala N Mansury kepada wartawan. Rabu

(19/1) mengatakan, acara pameran ini menghadirkan talk show bersama figur sukses Sandiaga S Uno, Joko Nugroho, Oscar Lawalata, Addie MS Kevin Vierra, Nia Dinata Nicholas Saputra, serta Winfred Hutabarat.

Para finalis Wirausaha Mandiri (2007-2010) dan mitra binaan Mandiri Juga akan hadir sampai dengan 180 gerai produk. Di antara peserta pameran yang sekaligus peserta seleksi final Wirausaha Mandiri 2010 adalah Fajar Handika. Yohanes Auri, Sari Amelia, Triyono, dan Kadek Antari.

Fajar Handika adalah anak muda Yogyakarta pemilik Foodfezt, sebuah Jood-court dengan Integrasi IT yang beromzet ratusan juta. Selanjutnya Yohanes Auri adalah pemilik FLUX Design, sebuah agen-sl desain grafis yang mengerjakan berbagai materi desain komunikasi dari berbagai perbankan, properti dan perusahaan terkemuka lain.

Sementara itu, Sari Amelia adalah produsen Osmoes Kaos Muslimah; Triyono, pemilik usaha peternakan sapi dan ayam terpadu di Sukoharjo yang ramah lingkungan, dan Kadek Antari, pemilik usaha Gurita Shoes Painung (Sepatu Lukis Khasball, Lukis Foto, Kebaya Lukis) dari Bali.

Untuk acara hiburan belasan artis papan atas akan menghibur para pengunjung di antaranya adalah Nldji, Andra The Backbone, Vierra, Bondan Prakoso, Judlka. Seventeen. Acara penjtas hiburan ini akan dipandu oleh Artika Sari Devi, Agni Pratistha dan Erwin Parengkuan.

Pahala menambahkan, penghargaan Wirausaha Mandiri ini terbuka bagi mahasiswa kategori diploma dan sarjana serta kategori pascasarjana dan alumni.

Pihak Bank Mandiri, lanJutPahala, yakin dengan meningkatnya angka kewirausahaan, maka tingkat kesejahteraan bagi lingkungan sekitar pun akan meningkat sehingga dapat mendorong roda perekonomian Indonesia.

"Sebab wirausaha dapat membuka lapangan kerja baru dan akan membantu menurunkan angka pengangguran." kata Pahala.

Pahala menambahkan. Expo Wirausaha Mandiri 2011 sebagai kesempatan emas untuk mendapatkan inspirasi dari kisah sukses para pengusaha maupun peserta Wirausaha Mandiri. Hu karena saat ini generasi muda bisa menjadi agen perubahan

Hasnul, Memerdekakan Telekomunikasi - KOMPAS.com

Memerdekakan Informasi

HARYO DAMARDONO

Perang belum usai. Inovasi, strategi, hingga aksi ”sikut menyikut” bergantian diluncurkan oleh perusahaan-perusahaan telekomunikasi. Tarif pun ditekan serendah-rendahnya; ditandai iklan-iklan yang merasuki. Namun tampaknya, soal ”perang” ini tak ada keberatan karena tarif semakin murah.

Empat tahun silam, tidak banyak orang berani menelepon interlokal misalnya dari Jakarta ke Padang. Tidak sampai satu menit, mungkin biayanya Rp 50.000. Bila sering ke wartel, terlihat jelas di layar monitor, ongkos pembayaran percakapan yang terkuras cepat seiring dengan bertambahnya waktu.

Kini, komunikasi lebih mudah sekaligus murah. Baik tarif telepon, pesan singkat, maupun data juga makin murah. Tanpa disadari, dibanding empat tahun silam, tagihan telepon tinggal 30-50 persennya. Penghematan biaya yang dapat dialihkan membeli keperluan lainnya.

Si penabuh genderang perang itu adalah Hasnul Suhaimi, yang sejak September 2006 menjabat Chief Executive Officer PT XL Axiata, Tbk. Sikap tak pernah berpuas diri serta strateginya untuk terus mereposisi organisasi telah memicu perang itu.

”Data percakapan di India tahun 2006 membuka mata saya. Saya terkejut sebab di sana tiap orang rata-rata berbicara 500 menit per bulan. Sementara di XL saat itu tiap orang hanya 43 menit per bulan. Jauh bedanya,” kenang Hasnul.

Tim dibentuk. Seorang perempuan yang bukan manajer memimpin tim beranggota 14 orang. ”Saya tunjuk dia sebagai ketua tim, mengepalai beberapa manajer karena dia menguasai materi yang didapatnya di lapangan. No problem, tak ada masalah dengan struktural perusahaan,” kata Hasnul yang ditemui akhir Agustus 2010.

Dua bulan tim bekerja, keluarlah angka tarif Rp 1 untuk percakapan satu detik.

Dunia telekomunikasi Indonesia gempar. XL terus melaju. Januari 2008, Excelcomindo malah melansir tarif Rp 0,1 per detik. Kini di XL, rata-rata percakapan per orang sudah 500 menit per bulan. Sementara operator pesaingnya 300 menit per orang per bulan.

Jejak keberhasilan strategi XL yakni adanya lonjakan pelanggan. Tahun 2006, hanya 9,5 juta pelanggan yang tertarik bergabung. Pada akhir tahun 2007 menjadi 10,2 juta pelanggan. Sementara hingga semester I tahun 2010, jumlah pelanggan XL telah 35,2 juta orang.

Reorganisasi

Diakui Hasnul, saat dia mulai berkarya di XL, organisasi sudah rapi bahkan terlalu rapi. Masalahnya, dalam dunia yang berubah cepat, organisasi yang terlalu rapi malah menyusahkan.

”Marketing misalnya, tak boleh tertata rapi. Harus dinamis. Masak pernah ada marketing saya yang tidak tahu tarif Telkomsel dan Indosat. Ya saya minta dia ke lapangan lagi,” kata Hasnul. ”Bagaimana XL meningkatkan diri bila tak tahu posisinya,” ujar Hasnul.

Namun dia meluruskan, dalam sebuah perusahaan tetap harus ada organisasi yang ”rapi”, seperti divisi pembangunan dan operasional.

XL bertransformasi di zaman Hasnul. Dimulai dari hal sederhana, seperti diubahnya tata letak (lay-out) kantor. Lantas, mutasi karyawan dari bagian sumber daya manusia ke jaringan (network). Kerja tim juga ditanamkan dalam keseharian kerja karyawan sebagai strategi utama melawan kompetitor.

Struktur yang boleh dibuat lentur langsung diobrak-abrik. Birokrasi dipangkas. Direktur keuangan dibolehkan mendatangi marketing, untuk menanyakan langsung penyebab berkurangnya penjualan. ”Nah, orang marketing juga bisa protes langsung. Marketing misalnya bisa bilang tak cukup ada budget sehingga pemasaran kurang. Budget ditambah, dan penjualan naik,” ujar Hasnul.

Alasan serupa mendasari mutasi orang jaringan pada divisi sales. ”Ini supaya orang jaringan mengerti, bila pekerjaan mereka buruk, bila jaringan lemah, maka bagian sales akan susah jualan produk,” kata Hasnul.

Rotasi akhirnya menjadi prasyarat pemimpin di XL. Untuk menjadi seorang manajer umum, seorang pegawai diharuskan telah bekerja di dua direktorat. Bila terlalu lama di posisinya, pegawai itu sangat hebat di bidangnya, tetapi tak mengerti hal lain. Atau, dapat kehilangan daya dobraknya lagi.

Terobosan

Hasnul juga memimpin XL dalam merancang dan melontarkan terobosan-terobosan. Kebijakan pemerintah per Maret 2008, tentang penggunaan menara bersama, telah didahului Excelcomindo dengan menyewakan menaranya untuk pelanggan Axis di Sumatera sejak Desember 2007.

Langkah XL untuk menyewakan menara pada masa itu sempat dianggap gila. ”Di sebuah ruang diskusi, saya juga pernah menantang. Apa Pertamina berani di tiap SPBU mereka, selain menjual bensin Pertamina, juga menjual Shell, Total, atau Petronas. Analogi itu kan sama langkah kami menyewakan menara XL untuk operator lain,” kata Hasnul sembari terkekeh.

Tujuh puluh persen manajer Excelcomindo, yang dimintai pendapatnya oleh Hasnul, ketika ide itu digulirkan, menolak rencana awal penyewaan menara. Para manajer itu mengkhawatirkan munculnya ”perang terbuka”. Bagaimana mungkin, memberi amunisi pesaing?

Menara, base transfer tranceiver-ringkasnya jaringan telekomunikasi, merupakan senjata pamungkas bagi sebuah perusahaan telekomunikasi untuk memenangi persaingan. Barang siapa memiliki jaringan yang luas, akan mampu memenangi hati calon pelanggan.

”Tetapi saya tantang bagian penjualan, berani tidak bersaing meski menara juga dipakai Axis? Mereka bilang siap, tetapi sebenarnya mau tak mau mereka pasti bilang siap ke saya,” kata Hasnul sambil tertawa. Sejurus kemudian, dia menekankan motivasi tinggi pun diberikan ke bagian penjualan.

Tenaga pemasaran Excelcomindo memang harus bekerja ekstra keras setelah salah satu keunggulan mereka dilepas ke pesaing. Di lapangan, kerja divisi pemasaran memang sudah ekstra keras. Tak sedikit terjadi perusakan spanduk antaroperator hanya untuk sedikit lebih unggul dari pesaing.

Terlepas dari segala hambatan, alhasil, tantangan yang disodorkan Hasnul ke internal perusahaan membuahkan hasil. Pelanggan baru tetap diraih Excelcomindo karena penjualan yang makin tangguh. Di sisi lain, kantong XL makin bertambah berkat penyewaan 7.000-8.000 unit menara tahun 2010.

Kini operator-operator besar telah menjangkau lebih dari 90 persen populasi disertai tarif murah. Maka, kini era kualitas layanan harus menjadi fokus utama. Hal ini pula yang sedang dicoba XL untuk menyiapkan diri di masa mendatang, tentu dengan tetap memanfaatkan optimalisasi kerja tim.

Saat duduk di tampuk pimpinan Excelcomindo, mungkin Hasnul Suhaimi bertindak luas dan simpel seturut nalurinya untuk mereorganisasi struktur manajemen. Namun, tak disadarinya, reorganisasi itu telah memerdekakan telekomunikasi Indonesia dengan tarifnya yang murah.

Triyono, Juragan Agribisnis Beromzet Miliaran - KOMPAS.com

Triyono, Juragan Agribisnis Beromzet Miliaran

Mungkin kita perlu mencontoh semangat Triyono, finalis tingkat nasional Penghargaan Wirausahawan Mandiri 2010 ini. Meski memiliki kekurangan fisik, ia berhasil mendirikan usaha di bidang agribisnis peternakan dan berhasil mencetak omzet hingga Rp 3 miliar per tahun.

Fisik Triyono memang tak sempurna. Meski ketika berjalan harus ditopang kruk yang mengapit di kedua lengannya, ia berhasil membuktikan kepada dunia bahwa ia mampu memberikan manfaat kepada orang lain.

Ketika ditemui KONTAN, Rabu (19/1/2011) di Jakarta, Triyono terlihat semringah. Berkali-kali ia tersenyum ketika menceritakan awal memulai bisnis. Bukan mengingat kenangan manis, tapi justru soal kesulitan dan tantangan yang ia hadapi saat membangun bisnis peternakan di Sukoharjo.

Tri, sapaan pria yang sejak berusia satu tahun divonis penyakit polio ini, bercerita bahwa ketika terjun di dunia agribisnis, dia tak banyak mendapat dukungan dari kerabat dan keluarganya sendiri. "Mereka saat itu selalu melihat ketidaksempurnaan fisik saya, mereka ragu akan kemampuan saya bekerja. Saat itulah saya merasa tidak berguna," kenang Tri.

Lelaki berumur 29 tahun ini teguh memegang prinsip: sebaik-baiknya manusia adalah yang paling bermanfaat untuk orang lain. Penolakan yang selalu disematkan kepadanya ketika mencari pekerjaan menyadarkan Tri bahwa ia harus membangun usaha sendiri untuk mengasapi dapurnya. "Sudah pasti, saya adalah orang pertama yang ditolak perusahaan ketika melamar sekalipun IPK saya bagus," tuturnya sambil tersenyum.

Tri mulai merintis usaha agribisnis peternakan ketika masih berstatus sebagai mahasiswa Jurusan Pertanian dan Peternakan Universitas Sebelas Maret, Solo, tahun 2006. Dengan bermodalkan Rp 5 juta, ia memulai usaha bebek potong. Ia membeli 500 bebek untuk dia kembang biakkan dan dibesarkan di lahan pekarangan rumah keluarganya.

Ia benar-benar menerapkan ilmu peternakan yang diperoleh di bangku kuliah. Hasilnya tokcer. Banyak pesanan mampir karena kualitas bebek peternakan Tri terbilang unggul. Bebek hasil ternaknya bukan hanya sehat, tetapi juga memiliki berat proposional. Ini yang membuat harga "si kwek-kwek" selalu bagus.

Pelan tapi pasti, selama setahun Tri mampu mengumpulkan modal dari usaha bebek potongnya. Tri memakai tambahan dana itu sebagai usaha jual beli sapi menjelang Idul Adha.

Awal 2007 ia memberanikan diri memulai usaha jual beli hewan kurban. Ia mengenang, saat itu menjadi tahun terberat baginya. Selain harus mempersiapkan ujian skripsi, ia juga baru merintis agribisnis.

Walhasil, saat pagi hingga siang hari ia harus berkutat dengan kuliah. Setelah itu Tri mencurahkan waktunya membeli dan menjual sapi untuk pasokan hari raya kurban.

Seorang diri, ia memasok hewan-hewan tersebut ke beberapa daerah di sekitar Sukoharjo. Masuk keluar pasar setiap hari sudah menjadi kegiatan rutin. "Saya harus berjalan jauh dengan menggunakan kruk, mencari dan membeli sapi yang berkualitas kemudian mengantar sapi-sapi tersebut ke tempat pesanan," kenang Tri. Tapi, dia pantang menyerah meski beberapa orang kerap menolak bekerja sama dengannya.

Segala usahanya tak sia-sia. Tri lulus dengan indeks prestasi kumulatif 3,2, dan juga meraih untung dari hasil penjualan sapi kurban. Ia memutar kembali keuntungan itu sebagai modal membeli sapi dan ayam.

Menyadari peluang usaha dari agribisnis cukup besar karena menyangkut kebutuhan primer banyak orang, dengan bermodalkan Rp 20 juta, Tri pun mantap membangun usaha secara serius pada tahun 2008.

Dengan mengibarkan bendera CV Tri Agri Aurum Multifarm, Tri berbisnis peternakan terpadu sapi potong, ayam potong, dan pupuk organik. Meski tak memiliki latar belakang berbisnis, Tri mampu meraih pasar dengan cepat.

Bekal kuliah menjadi nilai plus mengembangbiakkan ternak. Alhasil, pada 2008 dia mampu meraih omzet Rp 50 juta per bulan. Dia juga berhasil membuka lapangan kerja baru di desanya.


Meski tak keluar sebagai pemenang Wirausahawan Mandiri 2010, Triyono tak kecewa. Maklum, sejatinya, melalui ajang bertaraf nasional ini, ia ingin menunjukkan kepada semua orang bahwa peternakan sangat layak menjadi pilihan anak muda dalam berusaha. Asalkan, dikelola dengan manajemen yang baik.

Bagi Triyono, persoalan menang atau kalah bukanlah tujuannya mengikuti ajang Wirausahawan Mandiri 2010. Ada gol lain yang hendak dituju. Yakni, mengenalkan CV Tri Agri Aurum Multifarm ke seluruh Indonesia.

Tak hanya itu, Triyono juga ingin menunjukkan ke semua orang bahwa agribisnis bukan hanya usaha yang cocok untuk orang tua, tetapi juga dapat dikelola oleh anak muda seperti dirinya. "Saya ingin usaha agribisnis yang dikelola anak muda menjadi tren," ungkap Triyono.

Sejak mengembangkan usaha agribisnis dengan bendera Tri Agri tiga tahun lalu, omzet Triyono terus menanjak setiap tahun. Jika pada 2008, penghasilannya baru sebesar Rp 500 juta. Pada 2010 lalu pendapatannya melonjak enam kali lipat menjadi Rp 3 miliar.

Berbekal ilmu peternakan yang ia pelajari saat bangku kuliah, Triyono memulai usaha agribisnisnya dengan menjual bebek potong hingga kemudian beternak ayam dan terakhir sapi.

Kualitas ternak-ternak milik Triyono yang dibudidayakan di peternakan seluas 1 hektar tersebut terbilang unggul ketimbang ternak milik pelaku usaha lain. Meski begitu, bukan berarti Triyono boros dalam membudidayakan semua hewan ternaknya, justru sebaliknya. Tapi, "Bukan berarti saya irit memberi makanan ternak, tapi saya memberi makanan ternak secukupnya," ujar pria 29 tahun ini.

Hewan ternak yang diberi makan sesuai dengan asupannya dan tepat waktu lebih sehat dibandingkan dengan hewan ternak yang terus-terusan diberi makan. "Kami selalu memberi pakan tanpa campuran bahan kimia, hanya yang ada di lahan kamilah yang dimakan ternak, misalnya, rumput hijau," kata Triyono.

Cara ini tentu saja dapat menekan biaya operasional. Triyono juga memanfaatkan aneka bumbu dapur, seperti kunyit, jahe, dan lengkuas untuk mengobati ternak-ternaknya yang sakit akibat faktor perubahan cuaca. "Kalau ternak tak nafsu makan, tinggal diberi daun pepaya yang telah ditumbuk halus," imbuh dia.

Memanfaatkan pakan yang bersumber langsung dari alam tanpa campuran bahan kimia, Triyono mengatakan, juga akan menghasilkan sapi, ayam, dan bebek yang sehat dan bebas dari penyakit. Jadi, manajemen pakan, menurut Triyono, adalah 70 persen kunci dari keberhasilannya.

Namun, pola peternakan yang layak ditiru dari Triyono tak cuma sekadar soal memelihara, membesarkan, dan menjual hewan ternak, tetapi juga mengenai pengolahan limbah ternak.

Triyono—yang kerap memberikan penyuluhan kepada mahasiswa dari pelbagai perguruan tinggi, seperti Universitas Gadjah Mada Yogyakarta dan Universitas Sebelas Maret Surakarta—memanfaatkan kotoran hewan ternaknya menjadi pupuk kompos, kemudian dijual ke pasar seharga Rp 350 per kilogram.

Dalam sebulan, Triyono dapat mengolah 15 ton kotoran ternak yang disulap menjadi pupuk. Pria yang sempat mengenyam pendidikan di sekolah luar biasa (SLB) selama setahun saat usia delapan tahun ini mengatakan, ide mengolah limbah peternakan muncul ketika ia melihat kotoran ternak yang makin menggunung di sekitar lahan peternakannya.

Untuk menjadi pupuk, Triyono mencampur kotoran ternak dengan tanah dan serbuk jerami. Pengerjaannya secara manual. Setelah semua bahan tercampur secara merata, kemudian dibungkus dengan plastik dan siap dijual ke pasar.

Meski usaha agribisnis seperti peternakan telah mengantarkan sebagian orang bergelimang harta, toh sektor ini belum menjadi pilihan kalangan anak muda. Selain masih dinilai terlalu kolot dan hanya cocok untuk orang tua dan masyarakat pedesaan, agribisnis khususnya peternakan dianggap tidak bergengsi.

Apalagi, Triyono mengatakan, memulai usaha di bidang agribisnis harus memiliki modal yang besar. Inilah yang membuat para peternak lebih terlihat sebagai pemasok yang hanya mengejar keuntungan semata.

Padahal, menurut Triyono, kalau usaha ini dikelola dengan baik, niscaya beternak bisa setara dengan usaha-usaha bergengsi lainnya, seperti kuliner, industri kreatif, atau jasa.

[wanita-muslimah] Ketika Kebahagiaan Itu Singgah

Ketika Kebahagiaan Itu Singgah

Ketika Kebahagiaan Itu Singgah  By: agussyafii  Bila malam tiba, saya dan istri mengajar mengaji anak-anak Amalia. Istri saya  suka mengajak anak-anak Amalia untuk menghapal Juz Amma' atau menghapal Asma ul  Husna. Kegiatan mengajar mengaji anak-anak Amalia merupakan kegiatan yang  mendatangkan kebahagiaan tersendiri sebab kami bisa berbagi ilmu dan  mengajarkan untuk anak-anak Amalia. Disaat itulah kebahagiaan singgah di  keluarga kami.  Ada dua ungkapan, senang dan bahagia. Senang adalah terpenuhinya tuntutan  syahwat, misalnya sedang lapar menemukan makanan lezat, sedang haus menemukan  minuman segar, sedang sulit menemukan kemudahan, sedang kesepian ketemu teman  atau kekasih, sedang nganggur dapat pekerjaan dan sebangsanya. Adapun bahagia  berhubungan dengan misteri yang sangat subyektif, tetapi intinya adalah  datangnya  pertolongan ilahiyah hingga memperoleh sesuatu yang dianggap sebagai  kebaikan ilahiyah (al khoir).   Rasa bahagia misalnya terasa ketika anaknya lahir laki-laki setelah sekian lama  mendambakan ingin mempunyai anak lelaki. Keberhasilan memeliliki anak-lelaki  tidak diklaim sebagai prestasi - ini karena aku bisa bikinnya misalnya; kata  sang ayah- tetapi orang yang mempunyai anak lelaki setelah hampir putus asa  mendambakan kehadirannya merasa bahwa kehadiran anak lelaki itu merupakan  anugerah Alloh SWT yang tak ternilai. Kebahagiaan juga terasa ketika seorang  ibu yang membesarkan anak gadisnya tanpa kehadiran suami sehingga ia dalam  keadaan berat selalu berharap agar anaknya memiliki masa depan yang baik. Pada  saatnya anak gadisnya dipersunting oleh seorang  pemuda saleh yang cerah masa  depannya. Masa depan cerah anak gadisnya itu tidak diklaim sebagai prestasinya  tetapi benar-benar dipandang sebagai anugerah Alloh SWT.  Jadi kebahagiaan itu datang dalam rangkaian kesulitan yang panjang tetapi  ketika hadir tidak diakui sebagai prestasinya. Orang lainpun akan berkomentar,  ibu itu sungguh sudah bekerja keras melampaui berbagai kesulitan dalam mengasuh  anaknya sendirian, maka pantaslah  jika Allah menganugerahinya kebahagiaan yang  sempurna kepadanya.   Dalam bahasa Arab ada  empat kata yang berhubungan dengan kebahagiaan, yaitu  sa`adah (bahagia), falah (beruntung) dan najat (selamat) dan najah (berhasil).  Jika saadah (bahagia)  mengandung nuansa anugerah Alloh SWT setelah terlebih  dahulu mengarungi kesulitan, maka falah mengandung arti menemukan apa yang  dicari (idrak al bughyah). Falah ada dua macam, dunyawi dan ukhrawi. Falah  duniawi adalah memperoleh kebahagiaan yang membuat hidup di dunia terasa  nikmat, yakni menemukan  (a) keabadian (terbatas); umur panjang, sehat terus,  kebutuhan tercukupi terus dsb, (b) kekayaan; segala yang dimiliki jauh melebihi  dari yang dibutuhkan, dan (c) kehormatan sosial. Sedangkan falah ukhrawi  terdiri dari empat macam, yaitu (a) keabadian tanpa batas, (b) kekayaan tanpa  ada lagi yang dibutuhkan, (c) kehormatan tanpa ada unsur kehinaan dan (d)  pengetahuan hingga tiada lagi yang tidak diketahui.   Sedangkan najat merupakan kebahagiaan yang dirasakan karena merasa terbebas  dari ancaman yang menakutkan, misalnya ketika menerima putusan bebas dari  pidana, ketika mendapat grasi besar dari presiden, ketika ternyata seluruh  keluarganya selamat dari gelombang tsunami dan sebagainya. Adapun najah adalah  perasaan bahagia karena yang diidam-idamkan ternyata terkabul, padahal ia sudah  merasa pesimis, misalnya keluarga miskin yang sepuluh anaknya berhasil menjadi  sarjana semua.  Kesenangan berdimensi horizontal, sedangkan kebahagiaan berdimensi horizontal  dan vertikal. Orang masih bisa menguraikan anatomi kesenangan yang  diperolehnya, tetapi ia akan susah mengungkap rincian kebahagiaan yang  dirasakannya. Air mata bahagia merupakan wujud ketidakmampuan kata-kata. Prof.  Fuad Hasan dalam bukunya Pengalaman Naik Haji mengaku tidak bisa menerangkan  kenapa beliau menangis di depan Ka`bah, karena kebahagiaan yang beliau alami  berdimensi vertikal, bernuansa anugerah, bukan prestasi.   Banyak mempelai menitikkan air mata ketika akad nikah, demikian juga kedua  orang tuanya, dan mereka tidak bisa menerangkan anatomi perasaan bahagianya.  Kebahagiaan berkaitan dengan tingkat kesulitan yang dialami. Kebahagiaan  sesungguhynya dalam kehidupan rumah tangga bukan ketika akad nikah, bukan pula  ketika bulan madu, tetapi ketika pasangan itu telah membuktikan mampu  mengarungi samudera kehidupan hingga ke pantai tujuan, dan di pantai tujuan ia  mendapati anak cucu yang sukses dan terhormat. Sungguh orang sangat menderita  ketika di ujung umurnya menyaksikan anak-anak dan cucu-cucunya nya sengsara dan  hina, meski perjalanan bahtera rumah tangganya penuh dengan sukses story.  Kebahagiaan biasanya datang setelah orang sukses mengatasi kesulitan yang  panjang, tetapi tidak semua kesulitan mengantar pada kebahagiaan yang  sebenarnya.  Menurut hadis Nabi ada empat pilar kebahagiaan dalam hidup berumah tangga; (1)  isteri/suami yang setia (2) anak-anak yang berbakti (3) lingkungan sosial yang  sehat dan (4) rizkinya dekat.  Kesetiaan membuat hati tenang dan bangga,  anak-anak yang berbakti menjadikannya sebagai buah hati, lingkungan sosial yang  sehat menghilangkan rasa khawatir dan rizki yang dekatkan optimisme, idealisme  dan imajinasi..  Wassalam,

Aturan Manajemen Waktu

Prinsip Manajemen Waktu

Anda sekarang ini dan anda di masa datang ditentukan oleh antara lain cara anda berpikir dan cara anda menggunakan waktu. Sikap anda terhadap waktu adalah faktor penting dalam segala hal yang anda kerjakan dan anda harus selesaikan.

Prinsip Kejelasan
Semakin jelas tujuan dan sasaran anda, semakin efisien dan efektif anda akan mecapai tujuan tersebut. Kejelasan akan tujuan memegang mungkin sekitar 80% terhadap kesuksesan dan kebahagiaan anda. Orang dengan tujuan yang jelas & tertulis, menyelesaikan pekerjaannya jauh lebih cepat daripada orang yang bahkan tidak bisa membayangkan apa tujuannya.

Prinsip Prioritas
Kemampuan anda untuk menyusun prioritas yang jelas & akurat akan menentukan kualitas hidup anda. Untuk mencapai hal yang istimewa, anda harus berkonsentrasi terhadap sejumlah kecil aktifitas yang dapat memberikan nilai/value terbesar dalam hidup & pekerjaan anda.

Prinsip Meninggalkan
Sebelum anda memulai hal yang baru, anda harus meninggalkan yang lama. Anda akan mampu mempunyai kendali diri ke tingkatan yang lebih baik, jika anda bisa menghentikan mengerjakan hal-hal yang tidak mempunyai nilai/value yang tinggi atau hal-hal yang tidak penting.

Prinsip Aset-yang-paling-Berharga
Salah satu aset anda yang paling berharga adalah kemampuan anda untuk berkerja & mendatangkan penghasilan. Kemampuan anda untuk bekerja & mendatangkan penghasilan merupakan aset yang dapat terdepresiasi, layaknya mobil atau sebuah alat elektronik. Anda harus terus-menerus menjaga dan meningkatkan kemampuan tersebut agar anda bisa menjaga level produktifitas, perfomansi dan hasil yang anda peroleh.

Prinsip Perencanaan
Setiap menit yang anda gunakan menghemat sepuluh menit waktu perencanaan. Tujuan melakukan perencanaan adalah untuk memperbesar hasil yang anda harapkan, dimana anda telah menanamkan modal baik modal mental, emosional maupun fisik.

Prinsip Penghargaan
Penghargaan anda ditentukan oleh hasil yang anda capai. Anda akan dibayar sesuai dengan apa yang anda kerjakan, seberapa baik anda mengerjakannya dan seberapa unik pekerjaan anda. Cara tercepat untuk memperoleh penghasilan lebih banyak dan 'naik kelas' adalah anda harus mencapai hasil yang lebih berkualitas dan lebih banyak untuk bisnis dan diri anda.

Prinsip Urutan
Manajemen waktu memungkinkan anda mempengaruhi urutan kejadian dalam hidup anda. Kehidupan anda sekarang merupakan akumulasi hasil dari kualitas pilihan dan keputusan anda di masa lalu. Jika anda merasa ada yang tidak beres dengan kehidupan anda sekarang, anda mempunyai hak untuk mulai membuat pilihan yang berbeda dan keputusan yang lebih baik.



Wassalamu'alaykum warahmatullahi wabarakatuh